Skip to content

Golput: Sikap Peduli atau Tidak peduli?

April 4, 2009

Awalnya, pada tanggal 3 juni 1973, di Balai Budaya Jakarta  Arief budiman beserta aktifis mahasiswa dan gerakan pemuda lainnya menyerukan gerakan moral yang disebut  “Golongan Putih” atau Golput. Gerakan ini merupakan protes terhadapa sistem yang ada saat itu. Walaupun 34 eksponen golput tersebut kemudian ditahan oleh penguasa, namun sepertinya wacana golput masih marak hingga sekarang.

Apakah dengan golput kita tidak berpartisipasi dalam pemilu? Saya rasa tidak benar kalau seandainya dengan memilih golput terus seseorang dianggap tidak perduli dengan pemilu atau dianggap tidak… memperdulikan masa depan bangsa. Bukankah golput juga merupakan pilihan. Setidaknya dengan memilih golput, seseorang menunjukan sikap bahwa saat ini, tidak terdapat satupun partai yang dapat mewakili aspirasinya sehingga Dia memilih golput. Jadi golput menurut saya juga merupakan suatu jalan untuk ikut berpartisipasi dalam perbaikan negara. Dengan demikian, orang-orang yang mengkhawatirkan adanya golput dalam pemilu sebaiknya mulai menyingkirkan kekhawatirannya tersebut, karena dengan masih adanya orang yang memilih golput, berarti sistem yang ada dianggap belum cukup bagus oleh pemilih. Untuk itu dari pada menghawatirkan sesuatu yang sebaiknya tidak dikhawatirkan, sebaiknya lebih baik memikirkan apa yang seharusnya benar-benar dilakukan.

Mengenai diharamkannya Golput oleh MUI, berikut saya mengutip dari unila.ac.id :MUI mengajukan syarat untuk menjadi pertimbangan umat muslim Indonesia dalam memilih pemimpin mereka. Adapun syaratnya  sudah tidak asing untuk kita, yaitu shiddiq, tabliyah, fathonah, dan amanah sesuai yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Apabila ada pemimpin yang memiliki syarat tersebut maka umat muslim wajib untuk memilihnya, namun jika tidak ada salah satu dari sekian banyak calon pemimpin yang tidak menunjukkan syarat-syarat itu, ketua komisi fatwa, Bunyana Sholihin, mengatakan dalam hal ini diperbolehkan untuk golput alias tidak memilih.

Jadi kesimpulanya MUI tidak mengharamkan golput tanpa alasan, dan ternyata golput masih boleh dilakukan jika alasannya tepat. Masalahnya apakah saat ini ada kriteria pemimpin yang benar-benar sesuai dengan kriteria seperti yang disebutkan di atas? Semua kembali kepada pemilih untuk menilai siapa yang paling tepat menjadi pemimpin atau malah tidak ada yang pantas jadi pemimpin…

Iklan
5 Komentar leave one →
  1. Adityawarman permalink
    April 5, 2009 8:45 am

    Hidup Golpu ! Pengalaman adalah guru yg amat berharga.

    • April 5, 2009 1:44 pm

      emang berapa kali ikut pemilu Om? kalo saya sih baru satu kali… ini yang kedua. jadi belum begitu pengalaman 🙂

      • Agung permalink*
        April 5, 2009 6:33 pm

        saya sih udah beberapa kali ikut pemilu. mau cari pengalaman nih? 🙂

  2. April 5, 2009 7:32 pm

    ngga peduli..

  3. April 6, 2009 6:24 am

    tergantung sih, saya golput karena nggak ada di dpt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: